Langsung ke konten utama

Bagian 1 : Detik Rindu Bersama Rinainya


Hujan Februari 24

  Aku masih saja menunggu kabar mu, ponsel ini tetap setia menemaniku dalam setiap detiknya. Hujan pun begitu melakukan hal yang sama, menunggu pelangi muncul dari balik bukit hijau.

Bait pertama hingga terakhir ku tulis untukmu

Rinainya besautan dengan suara hatiku
Yang terus menerus memakan kerinduan
Detik waktu tak pernah lelah berjalan
Begitupun perasaanku padamu
Tak pernah lelah mencintaimu

Dering ponsel pun tak pernah ku dengar
Yang ada hanya rinai hujan 
Suara gemerciknya ku jadikan sebagai pengantar pesan
Pesan kerinduan akan engkau yang membisu
Bisu akan waktumu dengan ku

Kesibukan melahapmu untuk perlahan melupakan
Membuat ku bersama hujan terus menunggu

Detik, hujan , aku dan kamu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Stranger (Note 3 : Fatamorgana)

    Alifha masuk ke rumah dalam keadaan basah kuyup. Tetesan air dari roknya menetes sedikit demi sedikit ke lantai.⁣ ⁣ Ia meringis, "Aduh gawat," pekiknya.⁣ ⁣     Alifha segera masuk ke kamarnya untuk mengganti bajunya. Namun ia melihat bundanya berada di kamar tidurnya. Masih menggunakan mukenah, bundanya tertidur pulas di ranjang Alifha.⁣ ⁣     Pasti bunda dan ayah baru saja bertengkar, pikir Alifha. Ia mencoba tak menggubris situasi rumahnya sekarang dan segera mengganti bajunya. Di kamar mandi ia menatap pantulan dirinya di kaca. Tangannya mengusap halus kaca itu.⁣ ⁣     Alifha hanya ingin kebagiaan yang sebenarnya, bukan fatamorgana yang selalu diperlihatkan orang tuanya dihadapan Alifha. Setiap Alifha bertanya kepada bunda dan ayahnya, mereka selalu menjawab kami baik-baik saja, kamu tidak usah khawatir.⁣ ⁣ " Bullshit ," umpat Alifha.⁣ ⁣      Selesai mengganti bajunya. Ia meletakan pakaian ...

Stranger (Note 2 : Nestapa)

     Dia meminta cerai denganku. Pernikahan ini seakan tidak ada artinya, seperti kapal kecil yang terombang - ambing di tengah lautan. Tinggal menunggu gelombang yang besar untuk menghancurkan kapal kecil tersebut.⁣ ⁣ "Zaffar," dia memanggilku, suaranya terdengar lirih.⁣ "Tolong untuk kali ini saja, lepaskan aku, ya?" Farah menggenggam kedua tanganku, dan wajahnya terlihat memelas.⁣ ⁣ Kenapa harus perpisahan yang menjadi keputusan terakhir, batinku.⁣ ⁣       Aku melepaskan genggaman tangannya. Menjauh dari meja makan, meninggalkan dia sendirian disana. Di dalam kamar aku bisa mendengar suara tangisannya dengan jelas.⁣ ⁣ Drrt.. ponselku berdering, ada satu pesan masuk.⁣ ⁣ Cyntia⁣ Mas Zaffar besok jadikan makan siang bersama?⁣ ⁣       Aku langsung menekan tombol power off pada ponsel. Menghembuskan napas panjang dan menyenderkan punggungku pada senderan kasur.⁣ ⁣      Aku takut kehilangan Far...

Bagian 2: Terlelap Dalam Harapan Semu

Minggu siang, masih dengan hujan di Februari   Secangkir teh panas menemaniku di siang hari yang mendung, hujan kembali datang seiring dengan langit yang menggelap, karena awan yang bertambah suram. Jenuh mungkin? Karena kabarnya tak pernah menyetuh layar ponselku, apalagi telingaku. Harapan? Pasti ada tapi tak pernah terjamah ataupun jadi kenyataan. Semu tanpa kepastian.  Ku tulis kembali lembaran baru Pena dengan harapan semu ini terus menguntai katanya Bagai benang sulam yang tak pernah putus  Warnanya merah menyala seperti api membara Sebagai perwakilan harapan yang sia - sia  Bodohnya diriku... Tetap tidur di dalamnya Berat sekali untukku bangun, apalagi berdiri Apa yang kau berikan padaku selalu membekas dalam hati Janjimu, kata - katamu, menyatu di dalamnya Namamu pun begitu Mengema dalam ruang ini Tak pernahkah engkau berpikir  Bahwa seorang insan ini sedang menunggumu Meski ia tau bahwa semuanya palsu Harapan, aku dan kamu