Langsung ke konten utama

Bagian 3: Hujan-Ku atau Kamu

Senin Pagi 26 Februari 

  Aku Puya seribu pertanyaan dalam pikiran ku ketika hujan turun, dan pagi ini hujan kembali turun. Kenapa hujan selalu datang setiap hari sedangkan kamu hanya diam membisu entah kemana. Sempat ku dibuat bingung oleh keadaan ini. Aku memutuskan untuk keluar rumah, melangkahkan kaki menuju tanah yang basah.

 Payung ini ku tutup kembali, ku biarkan hujan membasahiku

Langit begitu suram
Hingga tangisnya datang lebih awal
Tanah yang tadinya kering 
Berubah menjadi hijau
Aku ingin menjadi tanah
Dapat berubah ketika hujan turun

Namun ia tak pernah datang
Melainkan hujan 
Apa aku harus menjadi tanah?
Agar hujan menjadi penyemangatku

Haruskah seperti itu?


Hanya hujan

  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Stranger (Note 3 : Fatamorgana)

    Alifha masuk ke rumah dalam keadaan basah kuyup. Tetesan air dari roknya menetes sedikit demi sedikit ke lantai.⁣ ⁣ Ia meringis, "Aduh gawat," pekiknya.⁣ ⁣     Alifha segera masuk ke kamarnya untuk mengganti bajunya. Namun ia melihat bundanya berada di kamar tidurnya. Masih menggunakan mukenah, bundanya tertidur pulas di ranjang Alifha.⁣ ⁣     Pasti bunda dan ayah baru saja bertengkar, pikir Alifha. Ia mencoba tak menggubris situasi rumahnya sekarang dan segera mengganti bajunya. Di kamar mandi ia menatap pantulan dirinya di kaca. Tangannya mengusap halus kaca itu.⁣ ⁣     Alifha hanya ingin kebagiaan yang sebenarnya, bukan fatamorgana yang selalu diperlihatkan orang tuanya dihadapan Alifha. Setiap Alifha bertanya kepada bunda dan ayahnya, mereka selalu menjawab kami baik-baik saja, kamu tidak usah khawatir.⁣ ⁣ " Bullshit ," umpat Alifha.⁣ ⁣      Selesai mengganti bajunya. Ia meletakan pakaian ...

Stranger (Note 2 : Nestapa)

     Dia meminta cerai denganku. Pernikahan ini seakan tidak ada artinya, seperti kapal kecil yang terombang - ambing di tengah lautan. Tinggal menunggu gelombang yang besar untuk menghancurkan kapal kecil tersebut.⁣ ⁣ "Zaffar," dia memanggilku, suaranya terdengar lirih.⁣ "Tolong untuk kali ini saja, lepaskan aku, ya?" Farah menggenggam kedua tanganku, dan wajahnya terlihat memelas.⁣ ⁣ Kenapa harus perpisahan yang menjadi keputusan terakhir, batinku.⁣ ⁣       Aku melepaskan genggaman tangannya. Menjauh dari meja makan, meninggalkan dia sendirian disana. Di dalam kamar aku bisa mendengar suara tangisannya dengan jelas.⁣ ⁣ Drrt.. ponselku berdering, ada satu pesan masuk.⁣ ⁣ Cyntia⁣ Mas Zaffar besok jadikan makan siang bersama?⁣ ⁣       Aku langsung menekan tombol power off pada ponsel. Menghembuskan napas panjang dan menyenderkan punggungku pada senderan kasur.⁣ ⁣      Aku takut kehilangan Far...

Bagian 2: Terlelap Dalam Harapan Semu

Minggu siang, masih dengan hujan di Februari   Secangkir teh panas menemaniku di siang hari yang mendung, hujan kembali datang seiring dengan langit yang menggelap, karena awan yang bertambah suram. Jenuh mungkin? Karena kabarnya tak pernah menyetuh layar ponselku, apalagi telingaku. Harapan? Pasti ada tapi tak pernah terjamah ataupun jadi kenyataan. Semu tanpa kepastian.  Ku tulis kembali lembaran baru Pena dengan harapan semu ini terus menguntai katanya Bagai benang sulam yang tak pernah putus  Warnanya merah menyala seperti api membara Sebagai perwakilan harapan yang sia - sia  Bodohnya diriku... Tetap tidur di dalamnya Berat sekali untukku bangun, apalagi berdiri Apa yang kau berikan padaku selalu membekas dalam hati Janjimu, kata - katamu, menyatu di dalamnya Namamu pun begitu Mengema dalam ruang ini Tak pernahkah engkau berpikir  Bahwa seorang insan ini sedang menunggumu Meski ia tau bahwa semuanya palsu Harapan, aku dan kamu