Langsung ke konten utama

Stranger (Note 1 : Abu-abu)


    Sungguh aku tidak menyukainya. Aku sudah berkali-kali bilang jika aku tidak ingin bersamanya lagi. Namun, dia terus memaksaku untuk berada disisinya.  Aku hanya diam, melihat dia hidup dengan kenyamanan tanpa mempedulikan perasaanku.⁣

     Kami sudah lama hidup bersama, setelah aku menikah dengannya semua terasa asing.  Meskipun raga kita selalu bersama, namun jiwa kita asing satu sama lain. Dia hanya mendatangiku ketika benar-benar membutuhkanku, sisanya ia mengabaikanku⁣

    Aku muak dengan semua perangainya, ia tetap bersikukuh bahwa aku tidak akan pernah meninggalkannya, alih-alih dia terus bermain dengan perempuan lain untuk memuaskan nafsunya.⁣

"Dasar lelaki bejat," aku memakinya untuk kesekian kali.⁣
"Apa katamu? Kau ini istriku atau bukan, jaga omonganmu." ujarnya dengan kepala dingin.⁣

    Ia memang bersikap tenang ketika aku mulai naik pitam, tapi cara dia mengabaikanku, cara dia mempermainkanku. Aku sangat membenci itu.⁣

"Aku meminta cerai, sekarang."⁣
Suasana berubah menjadi hening. Ia terdiam tanpa sepatah katapun. Di atas meja makan ini, percakapan tentang perpisahan sudah menjadi hal yang sering terucap.⁣

______to be continue______⁣

Date: Sabtu 28 desember 2019⁣
Time: 11.42 am⁣
Pic source: canva⁣
Edit tools : canva⁣
IG : @firya_fq & @pikachu_pens

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Stranger (Note 3 : Fatamorgana)

    Alifha masuk ke rumah dalam keadaan basah kuyup. Tetesan air dari roknya menetes sedikit demi sedikit ke lantai.⁣ ⁣ Ia meringis, "Aduh gawat," pekiknya.⁣ ⁣     Alifha segera masuk ke kamarnya untuk mengganti bajunya. Namun ia melihat bundanya berada di kamar tidurnya. Masih menggunakan mukenah, bundanya tertidur pulas di ranjang Alifha.⁣ ⁣     Pasti bunda dan ayah baru saja bertengkar, pikir Alifha. Ia mencoba tak menggubris situasi rumahnya sekarang dan segera mengganti bajunya. Di kamar mandi ia menatap pantulan dirinya di kaca. Tangannya mengusap halus kaca itu.⁣ ⁣     Alifha hanya ingin kebagiaan yang sebenarnya, bukan fatamorgana yang selalu diperlihatkan orang tuanya dihadapan Alifha. Setiap Alifha bertanya kepada bunda dan ayahnya, mereka selalu menjawab kami baik-baik saja, kamu tidak usah khawatir.⁣ ⁣ " Bullshit ," umpat Alifha.⁣ ⁣      Selesai mengganti bajunya. Ia meletakan pakaian ...

Stranger (Note 2 : Nestapa)

     Dia meminta cerai denganku. Pernikahan ini seakan tidak ada artinya, seperti kapal kecil yang terombang - ambing di tengah lautan. Tinggal menunggu gelombang yang besar untuk menghancurkan kapal kecil tersebut.⁣ ⁣ "Zaffar," dia memanggilku, suaranya terdengar lirih.⁣ "Tolong untuk kali ini saja, lepaskan aku, ya?" Farah menggenggam kedua tanganku, dan wajahnya terlihat memelas.⁣ ⁣ Kenapa harus perpisahan yang menjadi keputusan terakhir, batinku.⁣ ⁣       Aku melepaskan genggaman tangannya. Menjauh dari meja makan, meninggalkan dia sendirian disana. Di dalam kamar aku bisa mendengar suara tangisannya dengan jelas.⁣ ⁣ Drrt.. ponselku berdering, ada satu pesan masuk.⁣ ⁣ Cyntia⁣ Mas Zaffar besok jadikan makan siang bersama?⁣ ⁣       Aku langsung menekan tombol power off pada ponsel. Menghembuskan napas panjang dan menyenderkan punggungku pada senderan kasur.⁣ ⁣      Aku takut kehilangan Far...

Bagian 2: Terlelap Dalam Harapan Semu

Minggu siang, masih dengan hujan di Februari   Secangkir teh panas menemaniku di siang hari yang mendung, hujan kembali datang seiring dengan langit yang menggelap, karena awan yang bertambah suram. Jenuh mungkin? Karena kabarnya tak pernah menyetuh layar ponselku, apalagi telingaku. Harapan? Pasti ada tapi tak pernah terjamah ataupun jadi kenyataan. Semu tanpa kepastian.  Ku tulis kembali lembaran baru Pena dengan harapan semu ini terus menguntai katanya Bagai benang sulam yang tak pernah putus  Warnanya merah menyala seperti api membara Sebagai perwakilan harapan yang sia - sia  Bodohnya diriku... Tetap tidur di dalamnya Berat sekali untukku bangun, apalagi berdiri Apa yang kau berikan padaku selalu membekas dalam hati Janjimu, kata - katamu, menyatu di dalamnya Namamu pun begitu Mengema dalam ruang ini Tak pernahkah engkau berpikir  Bahwa seorang insan ini sedang menunggumu Meski ia tau bahwa semuanya palsu Harapan, aku dan kamu